Tuesday, March 4, 2008

diskusi komunitas menonton tema Realisme Sosial




Secangkir Kopi Pahit

Irham: waktu dalam film ini terasa dipadatkan sekali. Nggak enak melihatnya.

Adrian: aku bandingin dengan Breathless. Di film itu adegan yang ditampilkan hanya yang monumental. Mungkin juga dalam film ini yang mau ditunjukkin sutradara adalah pemadatan emosi.

Elida: aku mau ngomong soal musiknya. Lagunya igisi banget. Pemilihan scoringnya juga. Selalu ada lagu seperti itu ketika si Togar harus dihadapkan pada idntitas kebatakannya di jakarta..sesederhana mau menunjukkan kalo dia orang Batak yang insecure.

Windu: karakter sudah membawa historisitasnya sendiri-sendiri. dan itu langsung terlihat pada satu shot. aku nggak melihat ada established shot. Realitas yang dialami karakter langsung tampil pada saat itu juga dalam satu shot. Walaupun aku nggak terlalu paham kenapa eksekusi plotnya jadi seperti ini.

Adrian: Pacing...aku bermasalah dengan pacing yang ganggu banget. Film ini terlalu fragmental untuk bisa disebut realis..

Elida: itu treatment. Ketika tegur karya pake plot yang linier film ini bakal jadi klise....penonton akan langsung jatuh cinta pada tokoh-tokohnya, bukan cerita atau masalah yang mereka alami..tapi kalo disambungin ke realisme sosial, kenapa sih film ini bisa dianggap realisme sosial? Apa sih yang mau dikatakan realisme sosial sebetulnya?

Windu: kita tetap bisa berpegang pada beberapa kata kunci di sini karena definisi realisme sosial pun belum selesai di film: tradisi vs. modernitas, kota, kemiskinan...?

Elida: ok, tapi tradisi yang mana? Tradisi sebagai habitus?

Windu: habitus. Dan itu terjadi ketika karakter-karakternya mengalami semacam ketegangan habitus dan identitasnya dipertanyakan..kalo dalam sastra, tokoh-tokoh dalam novel-novel realisme sosial klasik biasanya eksis sebagai pihak yang menegasi sejarah dan kalah. Sama seperti film ini..

Elida: ok, tapi kita pun belum punya definisi yang fixed tentang realisme sosial..apakah ini semacam trial and error untuk mendefenisikan realisme sosial dalam program bulan ini? apakah kita sekadar bersandar pada sebuah asumsi film ini atau itu bisa disebut realisme sosial?


Jakarta Jakarta

Iwan: ini film blepetan banget...kataknya dia pake dua sutradara deh..ada beberapa bagian yang cara ngambil gambarnya beda banget..

Cory: iya, aku ngerasa nonton film yang nggak utuh..selalu kehilangan ceritanya..film ini dalam setiap scenenya terasa nggak selesai. Kontinuitasnya dipertanyakan.

Adrian: aku bilang sih ini film mozaik.. jadi niat awalnya sih mau menunjukkan jakarta denagn sluruh masalahnya..

Windu: setuju..kelihatan kok dari editingnya. Dalan setiap scene pasti ditunjukkan gambar kemiskinan atau pembangunan.

Adrian: premis awal film ini adalah permainan. Ada yang menang, ada yang kalah..itu jelas ditunjukkin sama sutradara dengan footage pertandingan olahraga di awal dan di akhir, walaupun kelihatan banget kalo nggak smooth dan akhirnya jadi preachy banget.

Windu: mmm, atau ada yang ditonton dan menonton. Kelihatan nggak sih kalo sejak awal film selalu ada pihak yang dihakimi dan menghakimi...seolah-olah ada sebuah panggung, ada banyak orang yang menonton dan ada satu atau dua orang yang berada di depan dan jadi pesakitan.

Iwan: betul...lalu kalo begitu penonton ditempakan dimana ya?

Windu: mungkin tetap sebagai pengamat, seperti logika pertandingan olahraga tadi. tapi cacatnya jusru di situ. kok pertandingan olahraga keroyokan gitu sih..tapi mungkin juga itu subtext: apa yang disebut “pertandingan olahraga” di jakarta nggak pernah fair...

Cory: betul juga..kalo dilihat-lihat siapa saja yang ditampilkan di situ, tumbur yang jadi perantau, seorang pelacur dan mahasiswa pincang, ditimpukin batu oleh wrga sekitar. sama juga kejadiannya waktu ospek. Atau juga si bapak-bapak pemilik bengkel itu yang jadi gila dan jadi tontonan si temen-temennya Ricca rachim.

Iwan: bisa juga cara staging seperti itu mau menggambarkan pride. Lihat si bapak Soesilo itu yang meminta kuli bangunan melayakan rokonya agar dilihat simpatik pada pegawainya.

Adrian: dan editingnya memang mau menggambarkan itu. kita lihat dia menginjak plang bengkel Toba Permai.. itu kan plang si bapak-bapak batak itu..

Umberto D

Adrian: Ngehe..gw nggak bisa ngomong banyak karena ketiduran di awal. bosen banget ini film. Untuk paruh bagian kedua asyik.

Gembul: kalo ditarik ke resos (realisme sosial) ini mau dibawa ke mana ya?

Windu: mungkin kita bisa melihat film-film De Sica zaman neorealis sebagai esai. Perkembangan karakter dan plot nggak terlalu penting karena ide besarnya adalah penggambaran kondisi italia pasca perang.

Adrian: Iya. Mirip kayak Bicycle Thief. Ini awal-awal film dibuat diluar studio. Kalo mau dibawa ke realisme mungkin ini pertama kalinya teori dan praksis realisme nyatu. Karena toh, kalo film ini dibuat di studio berarti film ini gagal motret apa yang real dari zaman itu kan? Tapi gw nggak berani ngomong banyak lah, setengah film gw nggak konsen dan tidur.

Gembul: aku sih lebih melihat kondisi alienatif yang dialami umberto. Dia sudah tua, uang pensiun nggak cukup nutup biaya hidupnya. Tapi juga nggak sepenuhnya alienatif karena keadaannya nggak jauh beda dengan yagn dialami oleh orang-orang disekelilingnya yang sama susahnya. Aku setuju plot dan karakter yang justru nggak berkembang malah jadi kekuatan untuk memtoret realitas sosial yang ada walaupun entry point-nya adalah hubungan orang tua dengan anjingnya.

Windu: shot-shot standar film realis banyak dipake. Longshot. Karakternya disudutnkan di pojok gambar berhadapan dengan lanskap yang jauh ke depan. penggambaran kota masuk dan menjadi parable bagi nasib si umberto atau sebaliknya. Selalu ada pemandangan di luar ruang yang terlihat apakah itu gedung lain, jendela dari gedung sebelah atau lihat waktu umberto naik bis bukan suasana bisnya yang disorot tapi gedung-gedung tua yang kusam—pake high angle dari sudut pandang umberto..Miris..seolah-olah penonton disuruh membandingkan antara usia kota itu dengan umberto begitu juga nasibnya: sama-sama tua, ringkih dan hanya bisa mengenang kejayaan masa muda. Dan di sisi lain, ia terkurung dan dihimpit oleh gedung-gedung itu...arsitektural nih film!

Grapes of Wrath

Iwan: kayaknya dia pake lagu cucakrowo deh..hahaha

Cory: ternyata cucakrowo nyontek tuh..

Iwan: aku mau ngomong tentang penempatan setiap scene! Kerasa nggak kalo tadi setiap mereka menghadapi masalah selalu selesai lalu menemui masalah baru. Pacing-nya selalu begitu. Nggak berubah dan datar.

Adrian: ia jelas banget. Tapi bailk lagi ke lagu...aku inget itu lagu pramuka. Kenapa itu ditampilkan terus-menerus? Kalo dilihat-lihat temanya juga sama dengan Jakarta Jakarta dan Secangkir Kopi Pahit. Transmigran, atau orang yang perlu untuk cari uang di kota lain, tapi di tempat baru itu masalah selalu muncul dan ketika masalah muncul lagu yang sama selalu muncul.

Cory: iya, film ini fragmental dari segi bangunan plotnya: pindah kota, mereka dapat satu masalah lalu masalah terselesaikan. Lalu pindah lagi..terus-terusan begitu.

Iwan: penanda zamannyanya jelas: Route 66. itu kan rute yang dibangun waktu adminsitrasi roosevelt berusaha mengatasi krisis dengan membangun industri di sepanjang rute itu. dan rute itu memang jadi transportasi utama industri. liat aja gimana plang dengan tulisan roosevelt disorot dari dekat. Propaganda new deal? Mungkin.

No comments: