Sunday, July 8, 2007

Cult of the Bored Youth

Genre Vs. Cerita Adakah genre film khusus remaja atau film yang ditempatkan di rak itu kebetulan saja menceritakan remaja? Apa sih yang sebetulnya mau dibahas film-film itu? Brick, Rumble Fish, American Graffiti, Apt Pupil, Pleasantville dan Donnie Darko. Hampir semuanya memiliki awalan yang sama: bayangkan kamu akan lulus SMA, atau semester awal kuliah, bosan dengan pelajaran sekolahmu, kamu anak pintar, nerd, dan masih perjaka, tiba tiba harus terlibat kasus pembunuhan (Brick), perkelahian geng motor (Rumble Fish), harus lulus dan tidak punya pasangan prom (Ameriacn Graffiti), terserap dalam acara TV tahun ’50-an (Pleasantville) terobsesi dengan Nazi (Apt Pupil) atau kiamat (Donnie Darko). Dari kausa yang sama--nerd, perjaka, tidak punya teman, terlalu pintar, atau rata-rata tapi punya hobi aneh seperti koleksi perangko—lalu masuk ke cara mereka terlibat dalam masalah dan cara penyelesaiannya, dan kebanyakan ditarik ke genre cerita biasa. Tidak semua bagus memang: banyak yang hanya terjebak pada persoalan populer-tidak populer, perjaka-tidak perjaka, dan sebagainya. Ketika sudah keluar dari lingkaran setan itu, maka tidak akan ada lagi genre remaja.

Dark, Pleasant World of Ghastly Donnie Selalu menarik membicarakan masa muda, apalagi jika sudah kehabisan bahan omongan. Yakin tidak ada genre remaja? Jika ada, barangkali Ghost World pantas disebut satu dari sedikit film yang paling tepat untuk berlaku sebagai bildungsroman-nya film remaja. Di film ini, semua orang sudah tahu jika Enid dan Rebecca adalah nerd dan tidak perlu mengatakan sialnya menjadi nerd. Terry Zwigoff, sutradara film ini, lebih memilih Enid (Thora Birch) sebagai anak SMU yang baru lulus dan harus berhadapan dengan pekerjaan, sewa apartemen, dan relasi dengan sahabat dan suami masa depan. Saat Rebecca meninggalkannya karena pekerjaan, ia merasa nerd yang lain telah meninggalkanya. Premis yang paling sering diajukan film-film serupa adalah nerd selalu berkumpul sampai tua, dengan kacamata tebal, baca buku dan membahas aeromodelling.

Donnie Darko dan Pleasantville pun tidak. Darko lebih suka membicarakan anak muda ganteng, Donnie (Jake Gylenhaal) yang kamarnya kejatuhan mesin pesawat dan punya teman imajiner setelahnya. “Anak muda yang kecewa” mungkin diksi yang tepat. Ia tidak didengar, dianggap anak bermasalah oleh keluarganya sendiri (seminggu sekali dikirim ke psikolog). Dari teman imajinernya itu, lelaki berkostum kelinci, ia mengetahui kiamat tinggal beberapa bulan lagi. Frank si kelinci, lalu ‘memaksa’ Donnie untuk menghancurkan sekolah, membakar rumah guru dan sebagainya. penonton bisa berspekulasi apakah jatuhnya pesawat yang berpengaruh pada Donnie atau Frank hanyalah personifikasi Donnie atas cerpen Graham Greene yang dibacanya. Sementara David di Pleasantville punya masalah dengan zamannya (’90-an)—yang ia anggap terlalu kompleks—dan mengasingkan dirinya dalam sitcom ’50-an, Pleasantville. Ketika ia masuk ke dalam dan menemukan dunia yang dingin, kaku, hitam putih, dan monoton, sementara ia tidak bisa kembali, David mencoba memberi warna (di luar hitam putih) yang ia pinjam dari kultur anak muda ’90-an. Apakah semua mengarah pada nilai? Altering reality with nonsense world? Gimme a break!

Cult of the Dead Cow Tepat. Nilai. Seklise konseling di sekolah-sekolah, dan seklise sinetron “Anak Menteng” tahun ’97. Tiga film di atas tidak hanya mengisahkan pertentangan nilai antara si tua dan si muda yang hadir begitu saja. lebih dari itu adalah bagaimana si muda ini bisa keluar dari dirinya, dari dilema nilai tersebut, dan berhadapan dengan realitas—yang, ternyata, tak selamanya milik generasi tua. Akhir yang bagus di Ghost World tatkala Enid meninggalkan kota kecil itu untuk memulai dari awal. Darko tragis, ia mati dalam ‘kiamat’ yang ia ciptakan sendiri. Atau sebaliknya, ia membuktikan kebenaran tesisnya yang beberapa kali ia ulang: setiap orang mati sendirian—Oh, anak muda sekali! Ok, serius, cult. Cerita Donnie Darko mungkin ditulis saat sutradaranya sendiri masih sekolah di tahun ’80-an—dengarkan nikmatnya soundtrack film ini. Dan Terry Zwigoff di film terakhirnya Art School Confidential mengulang tema yang sama: mahasiswa semester pertama sekolah seni yang karyanya terus ditolak oleh dosen yang memilih lukisan pop kacangan. Pengalaman personal? Mungkin. Mungkin banyak pula remaja Amerika dengan cap “LOSER” di jidatnya mengalami hal yang sama. Mungkin itu pula alasan mengapa film-film ini menyandang status cult—yang bisa jadi sama bunyinya dengan: gagal secara box office, temanya sangat eksentrik (time travel, nerd penonton sitcom lawas, kolektor vinyl yang kesepian), dan ujung-ujungnya hanya dinikmati oleh komunitas yang sama: movie geeks, berkacamata tebal, mengumpulkan pernak-pernik sci-fi, dan bermalam minggu dengan setumpuk dvd. Ada tidaknya tradisi cult movie di sini tidak jadi soal, tapi pernahkan terlintas pertanyaan”Apakah kita punya film remaja yang representatif, dengan tema spesifik, tanpa basket dan cheerleaders?”

No comments: