Sunday, July 8, 2007

Diskusi Komunitas Menonton Tema Hitchcock

Dial M for Murder

Awe : Menit-menit pertama film ini ngebosenin banget! Rasanya kayak nonton Agatha Christie. Yang bikin menarik, semua karakter di sini dinamis. Kecuali Mrs. Wendice, semuanya kelihatan pengen buka kasus. Gw jadi inget kata-kata Umar Kayam kalo kesenian Barat itu detailnya banyak, tapi jug abanyak bolongnya. Film ini secara keseluruhan dapet detailnya, dan plotnya nggak ada yang bolong, make sense.

Irham : hampir perfect seperti Rope (film Pertama Hitchcock yang diputar di Komunitas Menonton) tidak membosakan tapi secara naratif kurang tertata sampai pada titik tertentu penonton baru kebawa. Rope lebih tertata dan timing-nya lebih kena.

Adrian : banyak elemen-elemen Hitchcock yang kelihatan jelas di sini: Claustrophobia, cewek pirang yang tertekan dan jadi sangat rapuh, karakter utamanya punya inisiatif untuk bergerak—ini yang membedakannya dengan thriller murahan—dan satu lagi: detail sebuah perfect muder. Semua karakter di sini sangat manipulatif, semuanya ada dalam kepura-puraan.

Windu : Kalo disambungin sama dua film sebelumnya, bisa nggak sih “efek Hitchcock” yang tadi sudah disebutin bisa bekerja tanpa pemadatan ruang seperti ini? Psycho bisa, walaupun kedua karakter tidak saling bertemu: Norman Bates di ruang yang satu, si korban di ruang yang entah dimana. Itu tidak menjadi masalah karena ruang yang berbeda-beda itu, sebagai lokus pengalaman karakter, dihubungkan oleh “kecenderungan psikologis” tertentu. Ini yang bikin ritme Psycho naik turundan nggak linear, lalu meledak pada saat shower scene itu.

Rear Window


Irham : Pelan banget! Bosen!
Awe : Film ini kayaknya sindiran kalo masyarakat Amrik itu banyak banget ngeliat kekerasan tapi nggak mau terlibat. Kalo gw baca di “Kisah Mata” nya Seno itu semacam Voyeurism. Kerja kamera ya seperti itu, si fotografer yang sejak awal dibentuk untuk seperti itu.

Windu : Setuju. Di film ini akhirnya ada 3 subjek: si fotografer, yang diintip dan penonton. Semuanya punya kebiasaan mengintip. Subjek yang terakhir itu juga sebenernya mengharapkan film ini memberikan skema pembunuhan yang bagus dan jadilah kita pengintip. Cerdas! Kelihatan banget di scene terakhir, kalo si perempuan tua itu akhirnya nggak mau sama sekali terlibat untuk jadi saksi.

Adrian : cerita detektifnya nggak murahan. Twisting-nya bagus. Soal Voyeurism itu Jeffrey akhirnya sangat terlibat dengan tontonannya. Oh, ya soal cewek di film ini: khas Hitchcock banget. Putih, blonde, agak manja dan nggak punya inisiatif. Tapi di film ini itu nggak sepenuhnya terjadi. Justru si Jeffrey semakin menunjukkan ketertarikannya pada si wanita ketika ia “termaskulinisasi” serial of events tadi dan bikin dia kepancing untuk menyaksikan semuanya.

Kemas : setuju sama poin voyeurism tadi. Film ini kayaknya satir deh dilihat dari settingnya: apartemen padatdan semuanya bisa saling mengawasi tanpa mau ikut-ikut ambil pusing. Semuanya tinggal di tempat yang sama berhari-hari dan nggak bosa dengan itu. Apa bedanya dengan pengintip sejati?


Rope

Adit : Anjing! nggak nyangka bakal gitu kejadiannya! Sempurna banget! Kayaknya ini ngomongin guilt deh. Dan kebuka satu-satu secara nggak disengaja lewat perbicangan waktu pesta. Satu orang sangat yakin rahasianya kebongkar dan yang lain nggak. Inti ceritanya ya itu tadi, kesaksian si pembunuh itu bisa ditahan sampai kapan? Juga buktinya: kapan akan terlihat?

Irham : Kayak Teater. Cuma ada beberapa kali take dan editingnya minimalis banget. Film ini awalnya punya banyak subplot yang seolah-olah jalan sendiri-sendiri tapi ternyata seiring dengan hilangnya salah satu orang yang harusnya diundang di pesta itu, seluruh plot tadi langsung mengarah ke pembunuhan tadi. Hitchcock cerdas: penonton di awal dibuat bingung. Aku nggak tahu apakah setting senja di belakangnya itu betul ada atau manipulkasi studio aja. Kalo betul ada berarti film ini ketelitiannya tinggi: dari pembunuhan, persiapan pesta, pesta dan pembuktian ada pembunuhan di situ, berarti hanya butuh beberapa jam dari sore, matahari mulai terbenam, dan malam.

Windu : dan dimensi pembunuhan di sini juga luas, ada beberapa diskusi tentang pembunuhan dan perang di sini yang mengarah pada satu kejadian di pesta itu. ada si James Stewart yang bilang pembunuhan itu adalah semacam seni tapi justru dia yang menelanjangi seluruh konspirasi pembunuhan di kamar itu, justru dia yang jadi detektifnya. Aku pikir karakter-karakter di sini kompleks, multidimensi. Dibuktikan dengan si james tadi bisa punya opini yang sangat berbeda di awal dan di akhir. Guilt-nya gede: bagi dia yang namanya ngebunuh, ethically, tetap salah. Hitchcock di sini menelanjangi semua karakter. Yang dibongkar itu yang gelap-gelap. Dan ketika sudah menyangkut, atau dibawa ke posisi tertentu yang memojokkan, guilt-nya mulai kebuka satu-satu dan jadi motif pengakuan.

No comments: