Thursday, April 10, 2008

Dikusi Komunitas Menonton Tema Jim Jarmusch

Permanent Vacation

Cory: film ini nggak enak banget ditonton. Nggak kelihatan ada chemistry antara karakter-karakternya. Ekspektasiku berlebihan banget..apalagi kalo dulu pernah nonton down by law yang super fun!

Windu: masalah idenitifikasi karakter ally parker sebagai charlie parker. Pola-pola ini selalu muncul di film-film dia selanjutnya: salah orang karena namanya sama (william blake) , obsesi dengan tokoh tertentu...

Adrian:aku lihat di sini seluruh karakternya berdiri sendiri-sendiri dan nggak termotivasi satu sama lain. Seolah-olah nggak ada sebab akibat di film ini...

Cory: iya, dan bahasa tubuhnya pun tetap datar dan nggak berubah setelah ketemu karakter lainnya. Nggak kelihatan tuh dia berubah setelah ketemu ibunya di rumah sakit jiwa, atau ketemu musisi jazz di pinggir jalan atau orang yang lawakannya jayus banget di bioskop. Perubahannya jadi fragmental aja di akhir filmnya..

Gembul: atau dia semacam flaneur gitu? Sepanjang film dia hanya jalan-jalan dan terlihat terpisah dari orang-orang sekitarnya. dan terakhir dia ketemu turis yang walaupun nggak kelihatan aksen prancisnya ketika ally mau pindah ke paris seolah-olah menegaskan judul permanent vacation itu sendiri.

Windu: betul sih dia terlihat sangat kepisah banget. Jadi kayak orang yang selalu baru ketika jalan di kota. Dan dia sendiri ngomong begitu....ngomong asyiknya “drifting” nggak jelas ke tempat-tempat yang nggak dia kenal..

Down by Law

Victor: aku baca dimana gitu ada tulisan yang ngebandingin Down by Law dengan The Fugitive...intinya, perbandingan film tentang pelarian dari penjara yang fokus penceritaannya lebih ke suasana, pengalaman, dan relasi para napi saat mereka kabur..film ini kayak gitu.kenapa mereka masuk penjara jadi nggak penting lagi..

Cory: everyman for himself. Kayaknyaa ini yang maau diomongin film ini. Kelihatan banget hanya si roberto yang bisa mendamaikaan zack dan jack. waktu keduannya berantem di tengaah jaan dan sepakat pisah mereka pun ngomong sendiri dan ujung-ujungnya malah ketemu di titik dimana mereka pisah. Ini juga kelihtan di ending-nya...

Adrian: dialog-dialognyaa kasual banget. Mereka ngomongin hal-hal yang dangkal dan keseharian banget. Dan ini bikin film-film dia seolah-olah hampir tanpa plot yang jelas. Di kemudian hari gaya begini dipake oleh tarantino dan beberapa sutradara hollywood lain.

Mystery Train


Adrian: masalah seluruh karakter di seluruh segmen film ini sama. Perempuan (atau pasangannya) dan kecenderungan obsesif. Ujung-ujungnya masalah komunikasi sih..

Windu: iya, kayak roberto di down by law dengan sastra amriknya atau ally dengan charlie parker di permanent vacation..ada nggak sih hubungan judul lagu dengan judul lagunya elvis “mystery train”.

Cory: gimana dengan dua orang Jepang tadi?

Adrian: kalo gw lihat mereka bermasalah sejak awal. Mereka pake walkman sejak di kereta. Perjalanan yang harusnya jadi intim malah jadi kering banget. Atau adegan seks yang dilakukan dengan tidak intim, atau si laki-laki yang berpura-pura bahagia untuk menyenangkan pasangannya..

Windu: penggambaran orang-orang asing di setiap plot dengan tracking shot udah cukup mau bilang kalo mereka adalah turis di situ. Yang paling asing ya yang jepang itu. Mereka diletakkan di awal untuk memberikan impresi keasingan langsung ke penonton. Di plot-plot berikutnya keliatan kalo turis-turis itu waktu kunjungnya ternyata lebih lama dari yang sebelum-sebelumnya.

Cory: hanya ada satu scoring dan itu datar banget. Tempo baru naik di plot yang keetiga untuk nunjukkin tingkat konflik. Dan lagu “blue moon” jadi penghubung dan memberi konteks waktu kapan peristiwa itu terjadi dan saling berhubungan.

Adrian: aku yakin judul mystrery train itu cuma metafor yang nggak bakal kita temuin kalo nyambungin mentah-mantah dngan lagu elvis. Perjalanan di keretaitu kan harusnya jadi sesuatu yang intim dan kedua orang jepang dan cewek amerika itu di ending tetap merasa terasing...

Dead Man

Alia: capek nontonnya..

Windu: film ini sejak awal ngomongin tuker identitas dan dari awal kita memangtahu kalo si william blake bakaal tetap mati. Justru karena identitasnya tertukar itu dia terseret semakin jauh ke bunuh-bunuhan a la koboi itu. tanda-tanda yang dipake kelihatan jelas maksudnya. Tapi beberapa aku masih bingung...kayak mesin jahir itu...siapa yang tahu?

Adrian: yang menarik di film ini adalah genre-bending-nya jarmusch. Film ini jadi film anti-western.

Windu: apa aja sih film western revisionis?

Adrian: McCabe and Mrs. Miller....Peckinpah. dan beberapa film Clint Eastwood..ceritanya udah bukan sekadar kejar-kejaran bandit laagi atau dendam keluarga. dan protagonisnya mati. Itu jelas revisionis.

Windu: juga perubahan si william blake jadi pembunuh yang nggak bakal masuk ke konvensi film western. Di film western tokohnya dari awal sudah jadi semua. Dan di film ini tidak. Ini juga yang bikin dead man beda banget dari film-film jarmusch sebelumnya. Mungkin .mungkin ujung-ujungnya jadi homage. Atau dia hanya pake bahasa film koboi. Coba lihat musik yang dipake. Nggak standar film western banget. Setau gw nggak ada electric blues dalam western.

Alia: aku masih bingung dia bayak make shot yang tilting ke atas lalu blur.

Windu: mungkin itu pandangan orang yang dari awal film udah “difatwa” mati. Hehe..tapi jelas kalo sejak awal dia terluka parah dan ketika diobati dan bangun, ia bangun dengan tatapan seperti itu. Perhatiin juga bagian terkahir waktu william blake bener-bener mati. Shot-nya sama.

No comments: