<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-9176664426593160452</id><updated>2011-04-21T14:41:42.451-07:00</updated><title type='text'>Komunitas Menonton</title><subtitle type='html'>setiap jumat jam 19.30 wik</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://komunitasmenontonkinoki.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9176664426593160452/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://komunitasmenontonkinoki.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>kinoki adalah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16277936963497407349</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_78BArY592b4/SB_rRYkm23I/AAAAAAAAAd8/7WRK84R2kP4/S220/logo.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>8</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9176664426593160452.post-1393562124710499799</id><published>2008-04-10T01:53:00.000-07:00</published><updated>2008-04-10T01:57:13.897-07:00</updated><title type='text'>Diskusi Komunitas menonton Tema Perempuan</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Once were Warriors&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejauh mana kekerasan secara filmis efektif dalam mendeskripsikan kekerasan terhadap perempuan itu sendiri? Kritik yang sering dilontarkan oleh para feminis adalah kekerasan filmis semakin mereproduksi kekerasan di luar film dan justru mengaburkan tujuan emasipatoris filmnya.  Dalam cerita Once were warriors kekerasan dikatakan sudah ternadam sejak awal dalam relasi-relasi perbudakan antar etnis, kolonialisme, dan dominasi gender. Pada keluarga yang menjadi subjek film ini, ketiganya berkelindan: kekerasan yang dilakukan sang bapak pada ibu dan anak-anaknya antara lain juga disebabkan oleh faktor “balas dendam” karena kasta  etnisnya yang lebih rendah dibanding istrinya. Tidak hanya itu, sang sebagai orang maori, mereka pun disingkirkan oleh struktur social yang diskriminatif. Dunia kerja sang bapak pun terasa sangat keras terhadap perempuan. Penggambaran rumah yang sangat klaustrofobik, menyiratkan berbagai macam kompleksitas relasi di atas mampat dalam relasi dan ruang yang lebih sempit lagi: keluarga. Ketika terjadi konflik, kekerasanlah yang menjadi kompensasi atas segala masalah seluruh anggota keluarga tersebut. Di sinilah penggambaran yang superlatif terhadap kekerasan menjadi efektif. Kekerasan macam itu pula yang barangkali ingin ditampakkan oleh sang sutradara untuk membuat penonton muak dan jera. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;In the Time of Butterflies&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;In The Time of Butterflies meletakkan posisi perempuan dalam banyak dimensi: keluarga, relasi suami-istri, dan perjuangan politik. Yang terakhir menentukan dan membingkai kedua relasi pertama. Dalam cara pandang dan perilaku rezim Trujillo yang penting ialah kerja, negara dan keluarga. Terlihat dari cara Trujillo menyamakan dirinya dengan negara, juga kerasnya sanksi yang dijatuhkan pada orang yang pindah pekerjaan. Pada keluarga Mirabal ideologi negara diteguhkan dan bapak adalah sumber dan pemegang otoritas yang menentukan anak-anak perempuannya boleh bersekolah atau tidak. Di sisi lain, kezaliman rezim Trujillo telah juga menjadi rahasia umum di setiap keluarga. Saat Trujillo mengundang keluarga Mirabal dan merayu Minerva, sebuah kontradiksi muncul: wibawa dan otoritas maskulijn sang bapak untuk melindungi anak-anaknya, yang merupakan salah satu alat sekaligus produk ideologi dominan,  runtuh seketika tatkala harus berhadapan dengan “maskulinitas rezim”. Perjuangan klandestin melawan Trujillo yang diperlihatkan di film ini dipelopori oleh sekelompok dosen dan mahasiswa. Masuknya Minerva sejak awal dalam perjuangan tersebut melalui beberapa ruang sosial dari keluarga, kampus, keluarga lagi, dan penjara. Di pihak lain, film ini mau mengatakan bahwa relasi-relasi dalam ruang-ruang sosial yang dahulu mereproduksi ideologi rezim, digunakan oleh Minerva dan kawan-kawan untuk melawan rezim. Laki-laki yang terlibat di pergerakan pun terlihat sangat “politically correct” dengan menganggap setara rekan perempuannya bahkan dalam hubungan romantis dan keluarga. Tiba-tiba saja tercipta kesadaran politis di dalamnya saat keluarga Minerva ikut menyembunyikan senjata para gerilyawan dan juga saat beberapa sipir perempuan kulit hitam—kasta yang ingin dienyahkan oleh Trujillo—serta banyak dari narapidana perempuan bersimpati dan ikut menyebarkan berita kekejaman rezim dan perkembangan gerakan di luar penjara. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Personal Velocity&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga karakter film ini merepresentasikan  tiga aspek kekuatan perempuan: fisik, finansial, dan motherhood. Alih-alih menerima premis bahwa keluarga dan perkawinan adalah pelestari nilai-nilai patriarkis dengan figur laki-laki yang dominan, film ini memperlihatkan jika dominasi (laki-laki) tersebut sini tidak dapat dibaca semata-mata sebagai pola relasi terberi begitu saja sebagaimana pada perempuan, dominasi juga kembali dipertanyakan pada level mana dan bagian dari identitas perempuan apa yang ditundukkan. Ketiga cerita dalam film ini berangkat dari keluarga dimana hubungan dengan sang bapak diperlihatkan sangat menentukan perkembangan perempuan. Bapak yang bergaya hidup hippie berpengaruh pada cara anaknya melihat seks, kedekataan anak dengan bapak yang notabene pengaraca populer dan berpengaruh ikut pula menentukan cara pandang sang anak dalam memandang relasi romantis, dan bahkan absennya figur ayah pun kerap mempengaruhi cerita perempuan yang ketiga saat ia harus melakukan perjalanan panjang untuk mencari motherhood-nya. Sudut pandang laki-laki yang diambil Miller pun tidak selamanya hitam putih. Pada cerita yang pertama, memang terlalu klise jika poin yang diajukan adalah kekerasan dalam rumah tangga belaka—dan perempuan yang disiksa masih tetap setia dengan si penyiksa. Dominasi laki-laki di sini bermula dari menundukkan kekuatan fisik istrinya yang berupa daya tarik seksual. Pembebasaannya ditandai dengan si perempuan ketika mempecundangi anak majikannya yang mengajaknya berhubungan seks. Melampai itu, kehidupan berkeluarga yang telah memberinya anak menjadikan si perempuan di tidak pernah lepas dari spirit pengaturan diri sekaligus sense of reality yang membedakannya dengan beberapa kumpulan perempuan “progresif” di tempat penampungan sementara dan teman perempuan lamanya. &lt;br /&gt; Sedangkan di cerita yang kedua, relasi keluarga yang dominatif dari pasangan justru hampir tidak ada. Yang terlihat kemudian adalah dari pengaruh kuat dari figur. ayah yang ambisius tadi dan muncullah isu kebebasan sumberdaya (finansial) perempuan. cerita di bab kedua mempertanyakan  relasi antara laki-laki dan perempuan ketika ia dihadapkan pada masalah kepemilikan sumberdayanya: ketika suamai yang ditemuinya sangat penyayang dan setia, ia justru tidak bisa menahan godaan untuk berselingkuh. Cerita kedua kembali mempertanyakan apakah hubungangn macam itu yang diinginkan si perempuan, atau lebih nyaman lewat pintu belakang yang penuh petualangan? Di cerita ketiga dominasi figur laki-laki bahkan digambarkan dengan sangat halus. Hampir tidak ada konflik yang berarti antara pasangan dan keluaarga si perempuan, kecuali ajakan mereka untuk kembali ke rumah pasangannya. Perempuan yang tidak sengaja lari karena menyaksikan kecelakaan dari dekat itu menemukan motherhood-nya ketika berteman dengan anak laki-laki kecil yang ia temui di jalan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9176664426593160452-1393562124710499799?l=komunitasmenontonkinoki.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://komunitasmenontonkinoki.blogspot.com/feeds/1393562124710499799/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9176664426593160452&amp;postID=1393562124710499799' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9176664426593160452/posts/default/1393562124710499799'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9176664426593160452/posts/default/1393562124710499799'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://komunitasmenontonkinoki.blogspot.com/2008/04/diskusi-komunitas-menonton-tema.html' title='Diskusi Komunitas menonton Tema Perempuan'/><author><name>kinoki adalah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16277936963497407349</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_78BArY592b4/SB_rRYkm23I/AAAAAAAAAd8/7WRK84R2kP4/S220/logo.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9176664426593160452.post-4722705374376945768</id><published>2008-04-10T01:32:00.000-07:00</published><updated>2008-04-10T01:52:21.682-07:00</updated><title type='text'>Dikusi Komunitas Menonton Tema Jim Jarmusch</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Permanent Vacation&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cory: film ini nggak enak banget ditonton. Nggak kelihatan ada chemistry antara karakter-karakternya. Ekspektasiku berlebihan banget..apalagi kalo dulu pernah nonton down by law yang super fun!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Windu: masalah idenitifikasi karakter ally parker sebagai charlie parker. Pola-pola ini selalu muncul di film-film dia selanjutnya: salah orang karena namanya sama (william blake) , obsesi dengan tokoh tertentu...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adrian:aku lihat di sini seluruh karakternya berdiri sendiri-sendiri dan nggak termotivasi satu sama lain. Seolah-olah nggak ada sebab akibat di film ini...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Cory: iya, dan bahasa tubuhnya pun tetap datar dan nggak berubah setelah ketemu karakter lainnya. Nggak kelihatan tuh dia berubah setelah ketemu ibunya di rumah sakit jiwa, atau ketemu musisi jazz di pinggir jalan atau orang yang lawakannya jayus banget di bioskop. Perubahannya jadi fragmental aja di akhir filmnya..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gembul: atau dia semacam flaneur gitu? Sepanjang film dia hanya jalan-jalan dan terlihat terpisah dari orang-orang sekitarnya. dan terakhir dia ketemu turis yang walaupun nggak kelihatan aksen prancisnya ketika ally mau pindah ke paris seolah-olah menegaskan judul permanent vacation itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Windu: betul sih dia terlihat sangat kepisah banget. Jadi kayak orang yang selalu baru ketika jalan di kota. Dan dia sendiri ngomong begitu....ngomong asyiknya “drifting” nggak jelas ke tempat-tempat yang nggak dia kenal..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Down by Law&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Victor: aku baca dimana gitu ada tulisan yang ngebandingin Down by Law dengan The Fugitive...intinya, perbandingan film tentang pelarian dari penjara yang fokus penceritaannya lebih ke suasana, pengalaman, dan relasi para napi saat mereka kabur..film ini kayak gitu.kenapa mereka masuk penjara jadi nggak penting lagi..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cory: everyman for himself. Kayaknyaa ini yang maau diomongin film ini. Kelihatan banget hanya si roberto yang bisa mendamaikaan zack dan jack. waktu keduannya berantem di tengaah jaan dan sepakat pisah mereka pun ngomong sendiri dan ujung-ujungnya malah ketemu di titik dimana mereka pisah. Ini juga kelihtan di ending-nya...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adrian: dialog-dialognyaa kasual banget. Mereka ngomongin hal-hal yang dangkal dan keseharian banget. Dan ini bikin film-film dia seolah-olah hampir tanpa plot yang jelas. Di kemudian hari gaya begini dipake oleh tarantino dan beberapa sutradara hollywood lain. &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Mystery Train&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adrian: masalah seluruh karakter di seluruh segmen film ini sama. Perempuan (atau pasangannya) dan kecenderungan obsesif. Ujung-ujungnya masalah komunikasi sih..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Windu: iya, kayak roberto di down by law dengan sastra amriknya atau ally dengan charlie parker di permanent vacation..ada nggak sih hubungan judul lagu dengan judul lagunya elvis “mystery train”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cory: gimana dengan dua orang Jepang tadi?  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adrian: kalo gw lihat mereka bermasalah sejak awal. Mereka pake walkman sejak di kereta. Perjalanan yang harusnya jadi intim malah jadi kering banget. Atau adegan seks yang dilakukan dengan tidak intim, atau si laki-laki yang berpura-pura bahagia untuk menyenangkan pasangannya..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Windu: penggambaran orang-orang asing di setiap plot dengan tracking shot udah cukup mau bilang kalo mereka adalah turis di situ. Yang paling asing ya yang jepang itu. Mereka diletakkan di awal untuk memberikan impresi keasingan langsung ke penonton. Di plot-plot berikutnya keliatan kalo turis-turis itu waktu kunjungnya ternyata lebih lama dari yang sebelum-sebelumnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cory: hanya ada satu scoring dan itu datar banget. Tempo baru naik di plot yang keetiga untuk nunjukkin tingkat konflik. Dan lagu “blue moon” jadi penghubung dan memberi konteks waktu kapan peristiwa itu terjadi dan saling berhubungan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adrian: aku yakin judul mystrery train itu cuma metafor yang nggak bakal kita temuin kalo nyambungin mentah-mantah dngan lagu elvis. Perjalanan di keretaitu kan harusnya jadi sesuatu yang intim dan kedua orang jepang dan cewek amerika itu di ending tetap merasa terasing...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Dead Man&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alia: capek nontonnya..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Windu: film ini sejak awal ngomongin tuker identitas dan dari awal kita memangtahu kalo si william blake bakaal tetap mati. Justru karena identitasnya tertukar itu dia terseret semakin jauh ke bunuh-bunuhan a la koboi itu. tanda-tanda yang dipake kelihatan jelas maksudnya. Tapi beberapa aku masih bingung...kayak mesin jahir itu...siapa yang tahu? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adrian: yang menarik di film ini adalah genre-bending-nya jarmusch. Film ini jadi film anti-western. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Windu: apa aja sih film western revisionis? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adrian: McCabe and Mrs. Miller....Peckinpah. dan beberapa film Clint Eastwood..ceritanya udah bukan sekadar kejar-kejaran bandit laagi atau dendam keluarga. dan protagonisnya mati. Itu jelas revisionis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Windu: juga perubahan si william blake jadi pembunuh yang nggak bakal masuk ke konvensi film western. Di film western tokohnya dari awal sudah jadi semua. Dan di film ini tidak. Ini juga yang bikin dead man beda banget dari film-film jarmusch sebelumnya.  Mungkin .mungkin ujung-ujungnya jadi homage. Atau dia hanya pake bahasa film koboi. Coba lihat musik yang dipake. Nggak standar film western banget. Setau gw nggak ada electric blues dalam western. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alia: aku masih bingung dia bayak make shot yang tilting ke atas lalu blur. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Windu: mungkin itu pandangan orang yang dari awal film udah “difatwa” mati. Hehe..tapi jelas kalo sejak awal dia terluka parah dan ketika diobati dan bangun, ia bangun dengan tatapan seperti itu. Perhatiin juga bagian terkahir waktu william blake bener-bener mati. Shot-nya sama.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9176664426593160452-4722705374376945768?l=komunitasmenontonkinoki.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://komunitasmenontonkinoki.blogspot.com/feeds/4722705374376945768/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9176664426593160452&amp;postID=4722705374376945768' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9176664426593160452/posts/default/4722705374376945768'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9176664426593160452/posts/default/4722705374376945768'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://komunitasmenontonkinoki.blogspot.com/2008/04/dikusi-komunitas-menonton-tema-jim.html' title='Dikusi Komunitas Menonton Tema Jim Jarmusch'/><author><name>kinoki adalah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16277936963497407349</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_78BArY592b4/SB_rRYkm23I/AAAAAAAAAd8/7WRK84R2kP4/S220/logo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9176664426593160452.post-4513980540369794232</id><published>2008-03-04T10:26:00.000-08:00</published><updated>2008-03-04T10:41:32.731-08:00</updated><title type='text'>diskusi komunitas menonton tema New Wave</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Breathless&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adrian: di tahun segitu film ini entertaining banget dari segi tema. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bayu: emangnya sebelum ini film-film prancis gimana? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adrian: sebelum ini film hanya melayani orang-orang tua. Makanya orang-orang Cahiers du Cinema bilang film-film setelah PD II sebagai “cinema du papa”. Aku tertarik dengan musiknya yang semuanya musik film-film murahan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bayu: aku masih agak bingung soal cinema du papa.. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adrian: film yang cuma dibuat untuk bapak-bapak. Sebelum itu film cuma ngangkat adaptasi drama-drama panggung nggak ada filmmaker prancis yang spesifik dan terangterangan ngangkat kultur dan masalah anak muda. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Windu: yang aku lihat dari film ini sih cara godard membingkai tema tersebut dalam bingkai real time. Hand-held photograhy, gaya dokumenter yang diterapkan pada fiksi belum pernah diterapkan dalam sinema prancis sebelumnya dan ini semua segar sekaligus memberikan penonton persepsi tentang kesekarangan..baik secara estetis maupun content. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adrian: dan teknik jump-cuts di editingnya. walaupun itu digunakan karena alasannya karena pada waktu itu film prancis yang diputar di bioskop tidak boleh lebih dari 90 menit. Jump-cut itu dipake karena godard harus mengambil momen-momen penting dalam filmnya. aku masih heran soal kenapa orang-orang di jalan itu justru ngeliatin si belmondo dan seberg waktu mereka jalan berdua dan kamera ngikutin dari depan.. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rafif: iya, apa itu sekedar bolongnya film aja? Kalo betul berarti film ini gagal dong?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Windu: nggak gagal sih. Yang aku lihat malah godard berusaha meminimalkan batas antara film dan kehidupan nyata, real-time dengan waktu filmis. Ya ebetulnya ini turunan dari filsafat neorealis.: syuting harus di luar studio, penggunaan aktor non-profesional, bla bla bla.. tapi neorealis sendiripun melakukan manipulasi teatrikal dengan elemen-elemen dramatiknya. di scene hujan film Bicycle Thief ternyata suara hujannya dibuat oleh derap kaki puluhan kuda. Aku pikir ini yang dihindari godard...ketika tracking shot yang kamu bilang tadi justru ia menghapus batas-batas tadi...kalo aku baca di interview dia, dia bilang waktu filmis dan kejadian dalam film itu ya bagian dari kehidupan dan waktu sehari-hari juga...dia hampir nggak pernah pake skenario yang utuh dan penekanannya lebih kepada improvisasi aktor di lapangan. Ini juga berhubungan juga dengan jump-cut yang dipake. Yang diambil bukan cuma momen-momen penting tapi juga selalu dalam bingkai profil karakter tertentu entah seberg, belmondo, atau si jean-pierre melville yang jadi novelis di film ini. Hubungkan dengan seluruh dialog film ini, dan scene wawancara si melville..maka yang kita dapatkan adalah posisi film ini sebagai komentar sosial terhadap film, kehidupan sosio-politik prancis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adrian: ok, tapi dari segi musik, poster-poster film yang muncul sebagai set, dan scene anak muda menawarkan jurnal cahiers du cinema ke belmondo jelas-jelas dia pake bahasa orang lain untuk memberikan semacam komentar sosial yang kamu bilang. Dan ini yang hilang dalam film-film prancis sebelumnya. Dengan style yang campur aduk dan comot sana-sini (referensial) dia memang mau mendobrak tradisi film prancis yang kaku banget. Dia ngambil dari hitchcock, film-film gangster-nya bogart... dan di amrik sendiri film-film itu adalah film-film murah, tapi punya gaya yang segar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bayu: gimana dengan budget? Apa film ini berbudget besar?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adrian: budget terbesar film ini untuk mendatangkan jean seberg dari amrik. Yang lainnya relatif lebih kecil dibandingkan dengan film-film prancis jaman itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;The Cremator&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Windu: enaknya kita mulai dari mana ya? Ngehek nih, gw nggak tau banyak soal film ceko!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Iwan: aku datang telat..komentarku seadanya..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cory: film ini sinting nggak sih....? pusing banget ngeliatnya dan teror banget! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adrian: gw suka cara dia nempatin scene per scene. Musiknya nggak berhenti ketika kamera nyorot si karl lalu tiba-tiba langsung pindah ke scene dengan waktu dan tempat berbeda. Tapi yang disorot masih muka karl...jenius! dan yang bisa gw tangkep di situ adalah studi karakter si karl. Karl sebagai pusat. orang jahat yang berasa dirinya baik. ..tapi new wave-nya dimana sih ndu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Windu: Itu dia masalahnya...gw justru nggak terlalu paham film ceko sebelum prague spring. Tapi yang bisa kuamati di sini ya anasir politis yang kuat di setiap film new wave ceko. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Iwan: yang kubaca tentang new wave dimana pun merea selalu mengganti bahasa dialog jadi bahasa visual yang puitik.kayak di film ini...kebencian si karl terhadap orang yahudi diperlihatkan dengan sisipan gambar mata si karl yang terus melirik orang yahudi yang lagi nyanyi/berdoa di ketika dia diundang ke sinagog. Ini diulang terus. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Windu: atau di scene-scene awal ketika karl dan keluarganya di kebun binatang. Gambar detail-deatil wajah karl (mulut, mata kuping) itu juga disisipkan pada shot-shot bagian tubuh binatang tertentu yang dia lihat. Aku tertarik tema film ini: karl merasa menyelamatkan manusia dengan mengkremasi mereka. entah orang mati atau orang hidup yang ia bunuh terlebih dahulu. Ini film terakhir new wave ceko dan dibuat saat  rusia menginvasi ceko..dan biasanya kebencian politik di negara-negara komunis selalu diarahkan ke Nazi. Nazi selalu didengung-dengungkan negara sebagai musuh bersama...tapi di film ini sebetulnya sang sutradara sedang mengidentikkan nazi dengan pihak rusia. Di versi lain yan hilang, endingnya dibuat lain: ada tank rusia masuk (settingnya masih PD II), ada beberapa orang bertanya-tanya “kemana si karl?”  lalu pindah ke scene lain: wajah karl kopfrikingl memenuhi layah, tersenyum, lalu fade out. Versi ini kemudian di-ban oleh rusia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Iwan: soal komentar politik aku setuju, tapi tetep harus dicari barunya dimana dong..&lt;br /&gt;Windu: ngehek nih..film-film ceko susah banget dicari di sini. Tapi bisa sih kalo kita bandingin film-film milos forman lainnya. apalagi periode kreatif forman yang kedua itu antara tahun 1980-an sampe 1990-an. itu berbarengan pula dengan new-wave revival-nya ceko. film-filmnya beberapa bisa dicari....mungkin kapan-kapan kita harus bikin pemutaran khusus untuk bahas ceko.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Bonnie and Clyde&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cory: filmnya menyenangkan! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Windu: skripnya nggak seksis.biasanya film-film gangster lain perempuannya selalu perempuan penggoda... &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cory: iya, di film ini malah perempuannya yang punya inisiatif dalam relasi interpersonal antara bonnie dan clyde. Clyde betul-betul merasa harus membuktikan dia tidak impoten lewat aksi-aksi kekerasannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gembul: kenapa film ini dibilang new wave amrik?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adrian: sebelum ini film-film amrik temanya cuma muter-muter di musikal, drama orang tua..dan nak muda waktu itu betul-betul nggak dapet tempat kecuali di film-film-nya roger corman. Apa yang anak muda harapkan dari sound of music, west side story, dan film-film serupa? Nggak ada tembak-tembakan, kebut-kebutan motor, drugs...padahal konsumen bioskop sudah beralih ke anak muda...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Windu: aku tertarik ngomongin subtext film ini. di negara anglo-saxon selalu ada tradisi penghormatan terhadap penjahat...john dilinger, maureen hindley, charles manson. Di tahun 1960an, saat anak muda menggugat keteraturan, tokoh-tokoh inilah yang jadi idol.  Mereka dianggap mengguncang  dead white american values, americian dreams, american family...waktu sensor dihapus karakter-karakter anak bandel inilah yang muncul di bioskop-bioskop major, yang sebelumnya sudah ada di bioskop-bioskop grindhouse atau drive-in. Tidak ada keluarga yang beres dalam bonnie and clyde dan kelompok bandit menjadi salah satu alternatif bagi pendefinisian keluarga. Lihat scene terakhir: kaca yang dilubagi peluru disorot dari dekat dan polisi yang telah membunuh bonnie dan clyde mengintip jauh di belakang. Siapa yang sebetulnya sedang dibidik? Polisi membidik si bandit? Ok, tapi penonton juga yang akhirnya dipancing untuk membidik si polisis sebagai simbol dari otoritas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adrian: cutting yang cepat juga dipake. Secara psikologis efeknya lebih brutal. Penonton bisa melihat pembantaian dari segala macam sisi. Contoh yang paling gampang dan paralel dari film ini adalah psycho-nya hitchcock. Film-film new wave amrik, atau kritikus biasa nyebut “new hollywood” memakai teknik-teknik yang digunakan oleh film-film new wave prancis. Tapi mereka tetap setia dengan jalur genre. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Windu: tahun-tahun segitu, tulisan-tulisan  cahiers du cinema baru diterjemahin dan diadopsi sikap politiknya oleh kritikus amrik, andrew sarris. Makanya ada tuntutan authorship yang kuat di produksi film maupun di wilayah kritik film. Di amerika logis memakai sistem genre karena genre sudah terlalu mapan secara industri. ini didukung juga oleh “anjuran” cahiers untuk menziarahi film-film klasik yang minor, terutama film amrik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Monik: contoh film yang make teknik gitu lagi apa? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Windu: film-film hongkong! Hidup John Woo! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Elida: waaah, waktu tarantino bikin reservoir dogs semua pada kagum sama gaya harvey keitel nodongin senjata ke musuhnya..padahal john woo udah dari dulu-dulu begitu..&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9176664426593160452-4513980540369794232?l=komunitasmenontonkinoki.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://komunitasmenontonkinoki.blogspot.com/feeds/4513980540369794232/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9176664426593160452&amp;postID=4513980540369794232' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9176664426593160452/posts/default/4513980540369794232'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9176664426593160452/posts/default/4513980540369794232'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://komunitasmenontonkinoki.blogspot.com/2008/03/diskusi-komunitas-menonton-tema-new.html' title='diskusi komunitas menonton tema New Wave'/><author><name>kinoki adalah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16277936963497407349</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_78BArY592b4/SB_rRYkm23I/AAAAAAAAAd8/7WRK84R2kP4/S220/logo.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9176664426593160452.post-2524739023767905298</id><published>2008-03-04T10:14:00.000-08:00</published><updated>2008-03-04T10:26:24.868-08:00</updated><title type='text'>diskusi komunitas menonton tema Realisme Sosial</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_78BArY592b4/R82Tn-e6H8I/AAAAAAAAAVg/aDkMtbEYRys/s1600-h/grap2.gif"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://1.bp.blogspot.com/_78BArY592b4/R82Tn-e6H8I/AAAAAAAAAVg/aDkMtbEYRys/s400/grap2.gif" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5173953861915385794" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Secangkir Kopi Pahit&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Irham: waktu dalam film ini terasa dipadatkan sekali. Nggak enak melihatnya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Adrian: aku bandingin dengan Breathless. Di film itu adegan yang ditampilkan hanya yang monumental. Mungkin juga dalam film ini yang mau ditunjukkin sutradara adalah pemadatan emosi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Elida: aku mau ngomong soal musiknya. Lagunya igisi banget. Pemilihan scoringnya juga. Selalu ada lagu seperti itu ketika si Togar harus dihadapkan pada idntitas kebatakannya di jakarta..sesederhana mau menunjukkan kalo dia orang Batak yang insecure.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Windu: karakter sudah membawa historisitasnya sendiri-sendiri. dan itu langsung terlihat pada satu shot. aku nggak melihat ada established shot. Realitas yang dialami karakter langsung tampil pada saat itu juga dalam satu shot. Walaupun aku nggak terlalu paham kenapa eksekusi plotnya jadi seperti ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adrian: Pacing...aku bermasalah dengan pacing yang ganggu banget. Film ini terlalu fragmental untuk bisa disebut realis..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Elida: itu treatment. Ketika tegur karya pake plot yang linier film ini bakal jadi klise....penonton akan langsung jatuh cinta pada tokoh-tokohnya, bukan cerita atau masalah yang mereka alami..tapi kalo disambungin ke realisme sosial, kenapa sih film ini bisa dianggap realisme sosial? Apa sih yang mau dikatakan realisme sosial sebetulnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Windu: kita tetap bisa berpegang pada beberapa kata kunci di sini karena definisi realisme sosial pun belum selesai di film: tradisi vs. modernitas, kota, kemiskinan...?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Elida: ok, tapi tradisi yang mana? Tradisi sebagai habitus?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Windu: habitus. Dan itu terjadi ketika karakter-karakternya mengalami semacam ketegangan habitus dan identitasnya dipertanyakan..kalo dalam sastra, tokoh-tokoh dalam novel-novel realisme sosial klasik biasanya eksis sebagai pihak yang menegasi sejarah dan kalah. Sama seperti film ini..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Elida: ok, tapi kita pun belum punya definisi yang fixed tentang realisme sosial..apakah ini semacam trial and error untuk mendefenisikan realisme sosial dalam program bulan ini? apakah kita sekadar bersandar pada sebuah asumsi film ini atau itu bisa disebut realisme sosial?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Jakarta Jakarta&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Iwan: ini film blepetan banget...kataknya dia pake dua sutradara deh..ada beberapa bagian yang cara ngambil gambarnya beda banget..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cory: iya, aku ngerasa nonton film yang nggak utuh..selalu kehilangan ceritanya..film ini dalam setiap scenenya terasa nggak selesai. Kontinuitasnya dipertanyakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adrian: aku bilang sih ini film mozaik.. jadi niat awalnya sih mau menunjukkan jakarta denagn sluruh masalahnya..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Windu: setuju..kelihatan kok dari editingnya. Dalan setiap scene pasti ditunjukkan gambar kemiskinan atau pembangunan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adrian: premis awal film ini adalah permainan. Ada yang menang, ada yang kalah..itu jelas ditunjukkin sama sutradara dengan footage pertandingan olahraga di awal dan di akhir, walaupun kelihatan banget kalo nggak smooth dan akhirnya jadi preachy banget.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Windu: mmm, atau ada yang ditonton dan menonton. Kelihatan nggak sih kalo sejak awal film selalu ada pihak yang dihakimi dan menghakimi...seolah-olah ada sebuah panggung, ada banyak orang yang menonton dan ada satu atau dua orang yang berada di depan dan jadi pesakitan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Iwan: betul...lalu kalo begitu penonton ditempakan dimana ya? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Windu: mungkin tetap sebagai pengamat, seperti logika pertandingan olahraga tadi. tapi cacatnya jusru di situ. kok pertandingan olahraga keroyokan gitu sih..tapi mungkin juga itu subtext: apa yang disebut “pertandingan olahraga” di jakarta nggak pernah fair...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cory: betul juga..kalo dilihat-lihat siapa saja yang ditampilkan di situ, tumbur yang jadi perantau, seorang pelacur dan mahasiswa pincang,  ditimpukin batu oleh wrga sekitar.  sama juga kejadiannya waktu ospek. Atau juga si bapak-bapak pemilik bengkel itu yang jadi gila dan jadi tontonan si temen-temennya Ricca rachim. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Iwan: bisa juga cara staging seperti itu mau menggambarkan pride. Lihat si bapak Soesilo itu yang meminta kuli bangunan melayakan rokonya agar dilihat simpatik pada pegawainya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adrian: dan editingnya memang mau menggambarkan itu. kita lihat dia menginjak plang bengkel Toba Permai.. itu kan plang si bapak-bapak batak itu..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Umberto D&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adrian: Ngehe..gw nggak bisa ngomong banyak karena ketiduran di awal. bosen banget ini film. Untuk paruh bagian kedua asyik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gembul: kalo ditarik ke resos (realisme sosial) ini mau dibawa ke mana ya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Windu: mungkin kita bisa melihat film-film De Sica zaman neorealis sebagai esai. Perkembangan karakter dan plot nggak terlalu penting karena ide besarnya adalah penggambaran kondisi italia pasca perang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adrian: Iya. Mirip kayak Bicycle Thief. Ini awal-awal film dibuat diluar studio. Kalo mau dibawa ke realisme mungkin ini pertama kalinya teori dan praksis realisme nyatu. Karena toh, kalo film ini dibuat di studio berarti film ini gagal motret apa yang real dari zaman itu kan? Tapi gw nggak berani ngomong banyak lah, setengah film gw nggak konsen dan tidur. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gembul: aku sih lebih melihat kondisi alienatif yang dialami umberto. Dia sudah tua, uang pensiun nggak cukup nutup biaya hidupnya. Tapi juga nggak sepenuhnya alienatif karena  keadaannya nggak jauh beda dengan yagn dialami oleh orang-orang disekelilingnya yang sama susahnya. Aku setuju plot dan karakter yang justru nggak berkembang malah jadi kekuatan untuk memtoret realitas sosial yang ada walaupun entry point-nya adalah hubungan orang tua dengan anjingnya.    &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Windu: shot-shot standar film realis banyak dipake. Longshot. Karakternya disudutnkan di pojok gambar berhadapan dengan lanskap yang jauh ke depan. penggambaran kota masuk dan menjadi parable bagi nasib si umberto atau sebaliknya. Selalu ada pemandangan di luar ruang yang terlihat apakah itu gedung lain, jendela dari gedung sebelah atau lihat waktu umberto naik bis bukan suasana bisnya yang disorot tapi gedung-gedung tua yang kusam—pake high angle dari sudut pandang umberto..Miris..seolah-olah penonton disuruh membandingkan antara usia kota itu dengan umberto begitu juga nasibnya: sama-sama tua, ringkih dan hanya bisa mengenang kejayaan masa muda. Dan di sisi lain, ia terkurung dan dihimpit oleh gedung-gedung itu...arsitektural nih film! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Grapes of Wrath&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Iwan: kayaknya dia pake lagu cucakrowo deh..hahaha&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cory: ternyata cucakrowo nyontek tuh..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Iwan: aku mau ngomong tentang penempatan setiap scene! Kerasa nggak kalo tadi setiap mereka menghadapi masalah selalu selesai lalu menemui masalah baru. Pacing-nya selalu begitu. Nggak berubah dan datar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adrian: ia jelas banget. Tapi bailk lagi ke lagu...aku inget itu lagu pramuka. Kenapa itu ditampilkan terus-menerus? Kalo dilihat-lihat temanya juga sama dengan Jakarta Jakarta dan Secangkir Kopi Pahit. Transmigran, atau orang yang perlu untuk cari uang di kota lain, tapi di tempat baru itu masalah selalu muncul dan ketika masalah muncul lagu yang sama selalu muncul.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cory: iya, film ini fragmental dari segi bangunan plotnya: pindah kota, mereka dapat satu masalah lalu masalah terselesaikan. Lalu pindah lagi..terus-terusan begitu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Iwan: penanda zamannyanya jelas: Route  66. itu kan rute yang dibangun waktu adminsitrasi roosevelt berusaha mengatasi krisis dengan membangun industri di sepanjang rute itu. dan rute itu memang jadi transportasi utama industri. liat aja gimana plang dengan tulisan roosevelt disorot dari dekat. Propaganda new deal? Mungkin.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9176664426593160452-2524739023767905298?l=komunitasmenontonkinoki.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://komunitasmenontonkinoki.blogspot.com/feeds/2524739023767905298/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9176664426593160452&amp;postID=2524739023767905298' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9176664426593160452/posts/default/2524739023767905298'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9176664426593160452/posts/default/2524739023767905298'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://komunitasmenontonkinoki.blogspot.com/2008/03/diskusi-komunitas-menonton-tema.html' title='diskusi komunitas menonton tema Realisme Sosial'/><author><name>kinoki adalah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16277936963497407349</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_78BArY592b4/SB_rRYkm23I/AAAAAAAAAd8/7WRK84R2kP4/S220/logo.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_78BArY592b4/R82Tn-e6H8I/AAAAAAAAAVg/aDkMtbEYRys/s72-c/grap2.gif' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9176664426593160452.post-1129684043911788063</id><published>2007-07-08T07:18:00.001-07:00</published><updated>2007-07-08T07:52:17.630-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;span style="font-size:180%;"&gt;Cult of the Bored Youth&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;Genre Vs. Cerita &lt;/span&gt;Adakah genre film khusus remaja atau film yang ditempatkan di rak itu kebetulan saja menceritakan remaja?  Apa sih yang sebetulnya mau dibahas film-film itu? Brick, Rumble Fish, American Graffiti, Apt Pupil, Pleasantville dan Donnie Darko. Hampir semuanya memiliki awalan yang sama: bayangkan kamu akan lulus SMA, atau semester awal kuliah, bosan dengan pelajaran sekolahmu, kamu anak pintar, nerd, dan masih perjaka, tiba tiba harus terlibat kasus pembunuhan (Brick), perkelahian geng motor (Rumble Fish), harus lulus dan tidak punya pasangan prom (Ameriacn Graffiti), terserap dalam acara TV tahun ’50-an (Pleasantville) terobsesi dengan Nazi (Apt Pupil) atau kiamat (Donnie Darko). Dari kausa yang sama--nerd, perjaka, tidak punya teman, terlalu pintar, atau rata-rata tapi punya hobi aneh seperti koleksi perangko—lalu masuk ke cara mereka terlibat dalam masalah dan cara penyelesaiannya, dan kebanyakan ditarik ke genre cerita biasa. Tidak semua bagus memang: banyak yang hanya terjebak pada persoalan populer-tidak populer, perjaka-tidak perjaka, dan sebagainya. Ketika sudah keluar dari lingkaran setan itu, maka tidak akan ada lagi genre remaja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;Dark, Pleasant World of Ghastly Donnie&lt;/span&gt; Selalu menarik membicarakan masa muda, apalagi jika sudah kehabisan bahan omongan. Yakin tidak ada genre remaja? Jika ada, barangkali Ghost World pantas disebut satu dari sedikit film yang paling tepat untuk berlaku sebagai bildungsroman-nya film remaja. Di film ini, semua orang sudah tahu jika Enid dan Rebecca adalah nerd dan tidak perlu mengatakan sialnya menjadi nerd. Terry Zwigoff, sutradara film ini, lebih memilih Enid (Thora Birch) sebagai anak SMU yang baru lulus dan harus berhadapan dengan pekerjaan, sewa apartemen, dan relasi dengan sahabat dan suami masa depan. Saat Rebecca meninggalkannya karena pekerjaan, ia merasa nerd yang lain telah meninggalkanya. Premis yang paling sering diajukan film-film serupa adalah nerd selalu berkumpul sampai tua, dengan kacamata tebal, baca buku dan membahas aeromodelling.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Donnie Darko dan Pleasantville pun tidak.  Darko lebih suka membicarakan anak muda ganteng, Donnie (Jake Gylenhaal) yang kamarnya kejatuhan mesin pesawat dan punya teman imajiner setelahnya. “Anak muda yang kecewa” mungkin diksi yang tepat. Ia tidak didengar, dianggap anak bermasalah oleh keluarganya sendiri (seminggu sekali dikirim ke psikolog). Dari teman imajinernya itu, lelaki berkostum kelinci, ia mengetahui kiamat tinggal beberapa bulan lagi. Frank si kelinci, lalu ‘memaksa’ Donnie untuk menghancurkan sekolah, membakar rumah guru dan sebagainya. penonton bisa berspekulasi apakah jatuhnya pesawat yang berpengaruh pada Donnie atau Frank hanyalah personifikasi Donnie atas cerpen Graham Greene yang dibacanya. Sementara David di Pleasantville punya masalah dengan zamannya (’90-an)—yang ia anggap terlalu kompleks—dan mengasingkan dirinya dalam sitcom ’50-an, Pleasantville. Ketika ia masuk ke dalam dan menemukan dunia yang dingin, kaku, hitam putih, dan monoton, sementara ia tidak bisa kembali, David mencoba memberi warna (di luar hitam putih) yang ia pinjam dari kultur anak muda ’90-an. Apakah semua mengarah pada nilai? Altering reality with nonsense world? Gimme a break!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;Cult of the Dead Cow&lt;/span&gt; Tepat. Nilai. Seklise konseling di sekolah-sekolah, dan seklise sinetron “Anak Menteng” tahun ’97. Tiga film di atas tidak hanya mengisahkan pertentangan nilai antara si tua dan si muda yang hadir begitu saja. lebih dari itu adalah bagaimana si muda ini bisa keluar dari dirinya, dari dilema nilai tersebut, dan berhadapan dengan realitas—yang, ternyata, tak selamanya milik generasi tua. Akhir yang bagus di Ghost World tatkala Enid meninggalkan kota kecil itu untuk memulai dari awal. Darko tragis, ia mati dalam ‘kiamat’ yang ia ciptakan sendiri. Atau sebaliknya, ia membuktikan kebenaran tesisnya yang beberapa kali ia ulang: setiap orang mati sendirian—Oh, anak muda sekali! Ok, serius, cult. Cerita Donnie Darko mungkin ditulis saat sutradaranya sendiri masih sekolah di tahun ’80-an—dengarkan nikmatnya soundtrack film ini. Dan Terry Zwigoff di film terakhirnya Art School Confidential mengulang tema yang sama: mahasiswa semester pertama sekolah seni yang karyanya terus ditolak oleh dosen yang memilih lukisan pop kacangan. Pengalaman personal? Mungkin. Mungkin banyak pula remaja Amerika dengan cap “LOSER” di jidatnya mengalami hal yang sama. Mungkin itu pula alasan mengapa film-film ini menyandang status cult—yang bisa jadi sama bunyinya dengan: gagal secara box office, temanya sangat eksentrik (time travel, nerd penonton sitcom lawas, kolektor vinyl yang kesepian), dan ujung-ujungnya hanya dinikmati oleh komunitas yang sama: movie geeks, berkacamata tebal, mengumpulkan pernak-pernik sci-fi, dan bermalam minggu dengan setumpuk dvd. Ada tidaknya tradisi cult movie di sini tidak jadi soal, tapi pernahkan terlintas pertanyaan”Apakah kita punya film remaja yang representatif, dengan tema spesifik, tanpa basket dan cheerleaders?”&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9176664426593160452-1129684043911788063?l=komunitasmenontonkinoki.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://komunitasmenontonkinoki.blogspot.com/feeds/1129684043911788063/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9176664426593160452&amp;postID=1129684043911788063' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9176664426593160452/posts/default/1129684043911788063'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9176664426593160452/posts/default/1129684043911788063'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://komunitasmenontonkinoki.blogspot.com/2007/07/cult-of-bored-youth-genre-vs.html' title=''/><author><name>kinoki adalah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16277936963497407349</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_78BArY592b4/SB_rRYkm23I/AAAAAAAAAd8/7WRK84R2kP4/S220/logo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9176664426593160452.post-7889714547501030237</id><published>2007-07-08T07:18:00.000-07:00</published><updated>2007-07-08T07:45:16.032-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Diskusi Komunitas Menonton Tema Hitchcock&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Dial M for Murder &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awe        : Menit-menit pertama film ini ngebosenin banget! Rasanya kayak nonton Agatha Christie. Yang bikin menarik, semua karakter di sini dinamis. Kecuali Mrs. Wendice, semuanya kelihatan pengen buka kasus. Gw jadi inget kata-kata Umar Kayam kalo kesenian Barat itu detailnya banyak, tapi jug abanyak bolongnya. Film ini secara keseluruhan dapet detailnya, dan plotnya nggak ada yang bolong, make sense.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Irham        : hampir perfect seperti Rope (film Pertama Hitchcock yang diputar di Komunitas Menonton) tidak membosakan tapi secara naratif kurang tertata sampai pada titik tertentu penonton baru kebawa. Rope lebih tertata dan timing-nya lebih kena.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adrian        : banyak elemen-elemen Hitchcock yang kelihatan jelas di sini: Claustrophobia, cewek pirang yang tertekan dan jadi sangat rapuh, karakter utamanya punya inisiatif untuk bergerak—ini yang membedakannya dengan thriller murahan—dan satu lagi: detail sebuah perfect muder. Semua karakter di sini sangat manipulatif, semuanya ada dalam kepura-puraan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Windu        : Kalo disambungin sama dua film sebelumnya, bisa nggak sih “efek Hitchcock” yang tadi sudah disebutin bisa bekerja tanpa pemadatan ruang seperti ini? Psycho bisa, walaupun kedua karakter tidak saling bertemu: Norman Bates di ruang yang satu, si korban di ruang yang entah dimana. Itu tidak menjadi masalah karena ruang yang berbeda-beda itu, sebagai lokus pengalaman karakter, dihubungkan oleh “kecenderungan psikologis” tertentu. Ini yang bikin ritme Psycho naik turundan  nggak linear, lalu meledak pada saat shower scene itu.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Rear Window&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Irham        : Pelan banget! Bosen!&lt;br /&gt;Awe        : Film ini kayaknya sindiran kalo masyarakat Amrik itu banyak banget ngeliat kekerasan tapi nggak mau terlibat. Kalo gw baca di “Kisah Mata” nya Seno itu semacam Voyeurism. Kerja kamera ya seperti itu, si fotografer yang sejak awal dibentuk untuk seperti itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Windu        : Setuju. Di film ini akhirnya ada 3 subjek: si fotografer, yang diintip dan penonton. Semuanya punya kebiasaan mengintip. Subjek yang terakhir itu juga sebenernya mengharapkan film ini memberikan skema pembunuhan yang bagus dan jadilah kita pengintip. Cerdas! Kelihatan banget di scene terakhir, kalo si perempuan tua itu akhirnya nggak mau sama sekali terlibat untuk jadi saksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adrian        : cerita detektifnya nggak murahan. Twisting-nya bagus. Soal Voyeurism itu Jeffrey akhirnya sangat terlibat dengan tontonannya. Oh, ya soal cewek di film ini: khas Hitchcock banget. Putih, blonde, agak manja dan nggak punya inisiatif. Tapi di film ini itu nggak sepenuhnya terjadi. Justru si Jeffrey semakin menunjukkan ketertarikannya pada si wanita ketika ia “termaskulinisasi” serial of events tadi dan bikin dia kepancing untuk menyaksikan semuanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemas        : setuju sama poin voyeurism tadi. Film ini kayaknya satir deh dilihat dari settingnya: apartemen padatdan semuanya bisa saling mengawasi tanpa mau ikut-ikut ambil pusing. Semuanya tinggal di tempat yang sama berhari-hari dan nggak bosa dengan itu. Apa bedanya dengan pengintip sejati?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Rope&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adit        : Anjing! nggak nyangka bakal gitu kejadiannya! Sempurna banget! Kayaknya ini ngomongin guilt deh. Dan kebuka satu-satu secara nggak disengaja lewat perbicangan waktu pesta. Satu orang sangat yakin rahasianya kebongkar dan yang lain nggak. Inti ceritanya ya itu tadi, kesaksian si pembunuh itu bisa ditahan sampai kapan? Juga buktinya: kapan akan terlihat?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Irham        : Kayak Teater. Cuma ada beberapa kali take dan editingnya minimalis banget. Film ini awalnya punya banyak subplot yang seolah-olah jalan sendiri-sendiri tapi ternyata seiring dengan hilangnya salah satu orang yang harusnya diundang di pesta itu, seluruh plot tadi langsung mengarah ke pembunuhan tadi. Hitchcock cerdas: penonton di awal dibuat bingung. Aku nggak tahu apakah setting senja di belakangnya itu betul ada atau manipulkasi studio aja. Kalo betul ada berarti film ini ketelitiannya tinggi: dari pembunuhan, persiapan pesta, pesta dan pembuktian ada pembunuhan di situ, berarti hanya butuh beberapa jam dari sore, matahari mulai terbenam, dan malam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Windu        : dan dimensi pembunuhan di sini juga luas, ada beberapa diskusi tentang pembunuhan dan perang di sini yang mengarah pada satu kejadian di pesta itu. ada si James Stewart yang bilang pembunuhan itu adalah semacam seni tapi justru dia yang menelanjangi seluruh konspirasi pembunuhan di kamar itu, justru dia yang jadi detektifnya.   Aku pikir karakter-karakter di sini kompleks, multidimensi. Dibuktikan dengan si james tadi bisa punya opini yang sangat berbeda di awal dan di akhir. Guilt-nya gede: bagi dia yang namanya ngebunuh, ethically, tetap salah. Hitchcock di sini menelanjangi semua karakter. Yang dibongkar itu yang gelap-gelap. Dan ketika sudah menyangkut, atau dibawa ke posisi tertentu yang memojokkan, guilt-nya mulai kebuka satu-satu dan jadi motif pengakuan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9176664426593160452-7889714547501030237?l=komunitasmenontonkinoki.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://komunitasmenontonkinoki.blogspot.com/feeds/7889714547501030237/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9176664426593160452&amp;postID=7889714547501030237' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9176664426593160452/posts/default/7889714547501030237'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9176664426593160452/posts/default/7889714547501030237'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://komunitasmenontonkinoki.blogspot.com/2007/07/diskusi-komunitas-menonton-tema.html' title=''/><author><name>kinoki adalah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16277936963497407349</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_78BArY592b4/SB_rRYkm23I/AAAAAAAAAd8/7WRK84R2kP4/S220/logo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9176664426593160452.post-2453048920908922649</id><published>2007-07-01T08:30:00.000-07:00</published><updated>2007-07-01T08:31:11.768-07:00</updated><title type='text'>road movie!</title><content type='html'>Komunitas Menonton bulan ini mengajukan tema Road Movie. Dalam road movie interaksi antar peran berkembang dalam ruang yang sempit: bus, mobil, atau ‘ruang maya’ seperti relasi anak-ayah dalam pencarian sepeda. Bagaimana para aktor saling menungkap rahasianya, dengan segala konflik di ruang sesempit itu? Mengapa membuat film di jalan atau memfilmkan orang di jalan tiba-tiba menjadi sangat menarik? Tunggu tulisan lengkapnya di jurnal kami, Ikonik! Ps: komunitas menonton baru dimulai lagi awal September.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9176664426593160452-2453048920908922649?l=komunitasmenontonkinoki.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://komunitasmenontonkinoki.blogspot.com/feeds/2453048920908922649/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9176664426593160452&amp;postID=2453048920908922649' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9176664426593160452/posts/default/2453048920908922649'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9176664426593160452/posts/default/2453048920908922649'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://komunitasmenontonkinoki.blogspot.com/2007/07/road-movie.html' title='road movie!'/><author><name>kinoki adalah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16277936963497407349</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_78BArY592b4/SB_rRYkm23I/AAAAAAAAAd8/7WRK84R2kP4/S220/logo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9176664426593160452.post-1461834222825429983</id><published>2007-06-03T11:23:00.000-07:00</published><updated>2007-06-03T11:24:23.591-07:00</updated><title type='text'>berani?</title><content type='html'>&lt;h3 class="post-title"&gt;&lt;br /&gt;       &lt;/h3&gt;                          &lt;span style="font-size: 85%;"&gt;Saudara-saudara, setelah beberapa kali pertemuan kami telah temukan fakta-fakta berikut: 1) Film-film ratapan pasti dikasih tagline: “Diangkat dari kisah nyata”. Ingat Film “Arie Hanggara atau “Ratapan anak Tiri”?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;a href="http://photos1.blogger.com/x/blogger/7040/3882/1600/720393/AladinDanLampuWasiat_pic2.jpg"&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center;" alt="" src="http://photos1.blogger.com/x/blogger/7040/3882/320/255214/AladinDanLampuWasiat_pic2.jpg" border="0" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt; 2) Nama cowok-cowok zaman ’70-an biasanya “Hendra, Herman, Johan, dan Burhan. Tahun ’80-an: Roy, Boy dan Joy;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://photos1.blogger.com/x/blogger/7040/3882/1600/809073/Srigala_pic2.jpg"&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center;" alt="" src="http://photos1.blogger.com/x/blogger/7040/3882/320/397704/Srigala_pic2.jpg" border="0" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt; 3) Zainal Abidin pasti jadi orang baik dan Hamid Sjariff pasti jadi bapak-bapak yang anaknya bunting waktu SMU. Mau tau lebih banyak? Ayo ikut kelas menonton setiap Jumat, 16.30! &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="right"&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center;" alt="" src="http://photos1.blogger.com/x/blogger/7040/3882/320/745585/DeadlyAngels_pic4.jpg" border="0" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span style="font-size: 85%; color: rgb(204, 0, 0);"&gt;&lt;strong&gt;Kontak: Windu (&lt;span fn_index="0" info="Call +6281328040293;0;+6281328040293;1;" onmouseup="SetCallButtonPressed(this, 0,0)" onmousedown="SetCallButtonPressed(this, 1,0)" onmouseover="SetCallButton(this, 1,0);skype_active=CheckCallButton(this);" onmouseout="SetCallButton(this, 0,0);HideSkypeMenu();" context="0813 280 40 293" rtl="false" class="skype_tb_injection" id="__skype_highlight_id"&gt;&lt;span title="Change country code ..." onclick="javascript:if(1){doRunCMD(event, 'chdial','0');}else{doRunCMD(event, 'call','+6281328040293');}event.preventBubble();return false;" onmouseout="SetCallButtonPart(this, 0);" onmouseover="SetCallButtonPart(this, 1);" class="skype_tb_injection_left" id="__skype_highlight_id_left"&gt;&lt;span style="background-image: url(chrome://skype_ff_toolbar_win/content/cb_normal_l.gif);" class="skype_tb_injection_left_img" id="__skype_highlight_id_left_adge"&gt;&lt;img src="chrome://skype_ff_toolbar_win/content/cb_transparent_l.gif" style="height: 11px; width: 7px;" class="skype_tb_img_adge" height="11" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="background-image: url(chrome://skype_ff_toolbar_win/content/cb_normal_m.gif);" class="skype_tb_injection_left_img" id="__skype_highlight_id_left_img"&gt;&lt;img style="margin: 0px 0px 2px; padding: 0px 1px 1px 0px; width: 16px; top: 0px; left: 0px;" src="chrome://skype_ff_toolbar_win/content/famfamfam/id.gif" title="" class="skype_tb_img_flag" name="skype_tb_img_f0" /&gt;&lt;img src="chrome://skype_ff_toolbar_win/content/space.gif" style="margin: 0px; padding: 0px; height: 1px; width: 1px;" class="skype_tb_img_space" height="1" width="1" /&gt;&lt;img src="chrome://skype_ff_toolbar_win/content/space.gif" style="margin: 0px; padding: 0px; height: 1px; width: 1px;" class="skype_tb_img_space" height="1" width="1" /&gt;&lt;img src="chrome://skype_ff_toolbar_win/content/arrow.gif" title="" class="skype_tb_img_arrow" name="skype_tb_img_a0" /&gt;&lt;img src="chrome://skype_ff_toolbar_win/content/space.gif" style="margin: 0px; padding: 0px; height: 1px; width: 1px;" class="skype_tb_img_space" height="1" width="1" /&gt;&lt;img src="chrome://skype_ff_toolbar_win/content/space.gif" style="margin: 0px; padding: 0px; height: 1px; width: 1px;" class="skype_tb_img_space" height="1" width="1" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;img src="chrome://skype_ff_toolbar_win/content/space.gif" style="margin: 0px; padding: 0px; height: 1px; width: 1px;" class="skype_tb_img_space" height="1" width="1" /&gt;&lt;span title="Call this phone number in Indonesia with Skype: +6281328040293" onclick="javascript:doRunCMD(event, 'call','+6281328040293');event.preventBubble();return false;" onmouseout="SetCallButtonPart(this, 0)" onmouseover="SetCallButtonPart(this, 1)" class="skype_tb_injection_right" id="__skype_highlight_id_right"&gt;&lt;span style="background-image: url(chrome://skype_ff_toolbar_win/content/cb_normal_m.gif);" class="skype_tb_innerText" id="__skype_highlight_id_innerText"&gt;&lt;img src="chrome://skype_ff_toolbar_win/content/space.gif" style="margin: 0px; padding: 0px; height: 1px; width: 1px;" class="skype_tb_img_space" height="1" width="1" /&gt;&lt;img src="chrome://skype_ff_toolbar_win/content/space.gif" style="margin: 0px; padding: 0px; height: 1px; width: 1px;" class="skype_tb_img_space" height="1" width="1" /&gt;&lt;img src="chrome://skype_ff_toolbar_win/content/space.gif" style="margin: 0px; padding: 0px; height: 1px; width: 1px;" class="skype_tb_img_space" height="1" width="1" /&gt;&lt;img src="chrome://skype_ff_toolbar_win/content/space.gif" style="margin: 0px; padding: 0px; height: 1px; width: 1px;" class="skype_tb_img_space" height="1" width="1" /&gt;0813 280 40 293&lt;/span&gt;&lt;span style="background-image: url(chrome://skype_ff_toolbar_win/content/cb_normal_r.gif);" class="skype_tb_injection_left_img" id="__skype_highlight_id_right_adge"&gt;&lt;img src="chrome://skype_ff_toolbar_win/content/cb_transparent_r.gif" style="height: 11px; width: 19px;" class="skype_tb_img_adge" height="11" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;)&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9176664426593160452-1461834222825429983?l=komunitasmenontonkinoki.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://komunitasmenontonkinoki.blogspot.com/feeds/1461834222825429983/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9176664426593160452&amp;postID=1461834222825429983' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9176664426593160452/posts/default/1461834222825429983'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9176664426593160452/posts/default/1461834222825429983'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://komunitasmenontonkinoki.blogspot.com/2007/06/berani.html' title='berani?'/><author><name>kinoki adalah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16277936963497407349</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_78BArY592b4/SB_rRYkm23I/AAAAAAAAAd8/7WRK84R2kP4/S220/logo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
